Pengembangan Kepribadian
OVERVIEW
Kejayaan bangsa ditandai dengan pertumbuhan character di dalamnya. Pendidikan karakter di luar negeri menjadi perhatian bagi pemerintahannya Bagi perusahaan karakter adalah jatidiri atau lebih dikenal dengan culture. pertanyaannya apakah sama antara karakter dan kepribadian. banyak tokoh yang beerbeda pendapat mengenai ini, tapi pada intinya mereka semua sepakat bahwa karakter bisa di bentuk sesuai dengan apa yang menjadi nilai nilai yang ingin dibangun. sekarang pertanyaan kedua adalah bagaimana karkater tersebut dibangun ? Kami dari inspiera sinergi indonesia mencoba membuat program untuk bisa mewujudkan nilai nilai tersebut. Program ini idealnya adalah dibuat beberapa tahapan, akan tetapi bisa juga awalnya agar menjadi trigger untuk perubahan kearah yang positif.Tentunya program ini perlu controlling ketat dari pengambil kebijakan agar berjalan sesuai dengan harapan.
Pada tatanan mikro, karakter diartikan sebagai (i) kualitas dan kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupun situasi tertentu; atau (ii) watak, akhlak, ciri psikologis. Ciri-ciri psikologis yang dimiliki individu pada lingkup pribadi, secara evolutif akan berkembang menjadi ciri kelompok dan lebih luas lagi menjadi ciri sosial. Ciri psikologis individu akan memberi warna dan corak identitas kelompok dan pada tatanan makro akan menjadi ciri psikologis atau karakter suatu bangsa. Pembentukan karakter suatu bangsa berproses secara dinamis sebagai suatu fenomena sosio-ekologis.
Sebagai identitas atau jati diri suatu bangsa, karakter merupakan nilai dasar prilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antar manusia (when character is lost then everyting is lost). Secara universal berbagai karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian (peace), menghargai (respect),kerjasama (cooperation), kebebasan (freedom), kebahagiaan (happinnes), kejujuran (honesty), kerendahan hati (humility), kasih sayang (love), tanggung jawab (responsibility), kesederhanaan (simplicty), toleransi (tolerance) dan persatuan (unity).Kita mengenal dasar filisofis karakter atas dasar Tri Rahayu (Ki Tyasno Sudarto, Ketua Umum Majelis Hukum Taman Siswa, 2007) yaitu :
1. Mamayu hayuning saliro (bagaimana hidup untuk meningkatkan kualitas diri);
2. Mamayu hayuning bangsa (bagaimana berjuang untuk negara dan bangsa);
3. Mamayu hayuning bawana (bagaimana membangun kesejahteraan dunia).
Untuk mencapai tatanan Tri Rahayu tersebut, manusia harus memahami, menghayati, serta melaksanakan tugasnya sebagai manusia yang tercantum dalam Tri Satya Brata:
1. Rahayuning bawono kapurbo waskitaning manungsa (kesejahteraan dunia tergantung pada manusia yang memiliki ketajaman rasa)
2. Dharmaning manungsa mahanani rahayuning negara (tugas utama dalam menjaga keselamatan negara)
3. Rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane (keselamatan manusia ditentukan tata perilakunya)
Nilai-nilai luhur (supreme values) adalah pedoman hidup (guiding principles) yang digunakan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang lebih tinggi, hidup yang lebih bermanfaat, kedamaian dan kebahagiaan. Kemanusiaan yang dimaksud adalah humanitarianisma (perikemanusiaan) yang meliputi solidaritas sesama manusia, menghormati hakekat dan martabat manusia, kesetaraan dan tolong menolong antar manusia, menghormati perbedaan dalam berbagai dimensi antar manusia, menciptakan kedamaian. Budi pekerti sebagai nilai luhur adalah pilihan perilaku yang dibangun berdasarkan atas nilai-nilai yang diyakini sehingga sering diposisikan sebagai nilai instrumental atau cara mencapai sesuatu atau sikap terhadap sesuatu.
Dengan budi pekerti, kita akan berbakti, mengabdi dengan sepenuh jiwa raga kepada bangsa dan kita bukan bangsa pencaci ataupun penghujat.Bangsa Indonesia yang bersifat multi etnis memiliki khasanah ajaran, wewarah, tuntunan yang sangat kaya mengenai budi pekerti. Bagi masyarakat Jawa,wewarah budi pekerti banyak diwarnai dari para pujangga seperti Ki Ageng
Soerjomentaram dengan ajaran bahwa dalam menjalani hidup sebaiknya menghindari 1. perilaku : ngangsa-angsa; ngaya-aya; golek benere dhewe. Raden Mas Sosrokartono (saudaranya Raden Ajeng Kartini) adalah sarjana sastra pertama dari Negeri Belanda mengajarkan sikap batin utama untuk menghadapi berbagai situasi konflik. Ajaran beliau adalah : sugih tanpo bandha; digdaya tanpo aji; nglurug tanpo bala; menang tanpo ngasorake.Masyarakat Melayu mengenal “tunjuk ajar” secara turun temurun yang merupakan petunjuk mengenai mearifan budi dalam menyikapi segala bentuk masalah hidup. Beberapa ajaran dalam membangun budi pekerti pada umumnya disajikan dalam pantun yang indah, antara lain adalah :
hidup dalam pekerti mati dalam budi bila duduk, duduk bersifat bila tegak, tegak beradat bila bercakap, cakap berkhasiat bila diam, diam makrifat Maknanya adalah hidup harus selalu menunjukkan perilaku mulia atau terpuji dan tahu membawa diri.
ke hulu sama bergalah
ke hilir sama berhanyut
terendam sama basah
terapung sama timbul
Ajaran ini memberikan tuntunan untuk menjunjung nilai kebersamaan, kegotongroyongan, senasib sepenanggungan. Demikianlah terurai kata untuk mengingat kembali tekad kita untuksenantiasa… Bangunlah jiwanya, Bangunkah badannya, untuk Indonesia Raya. Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa menuntun bangsa Indonesia untuk “anggayuh kasampurnaning urip, berbudi bawa leksana, ngudi sajatining becik”.Sodjuangon Situmorang: Peranan Program Peningkatan Kapasitas Berkelanjutan untuk Desentralisasi.Harus diakui bahwa tuntutan terhadap kemandirian bangsa saat ini telah semakin mengemuka. Secara umum memang dapat dijawab dengan argumentasi fenomena globalisasi. Sebuah kondisi dimana semua negara harus memberikan peluang dan akses yang sama kepada semua pihak, termasuk pihak asing, untuk ikut terlibat dalam berbagai konstelasi nasional maupun regional di berbagai bidang,berikut segala konsekuensinya. Menghadapi kondisi tersebut, maka satu satunya demarkasi yang tegas adalah daya saing bangsa (national competitiveness), tentunya daya saing di sini dalam arti yang luas. Mencapai suatu daya saing yang kuat membutuhkan upaya besar dan peran aktif segenap komponen masyarakat. Salah satu tampilan yang berperan signifikan dalam upaya besar tersebut adalah pembinaan karakter bangsa, khususnya karakter positif bangsa yang harus terus ditumbuh-kembangkan melalui proses pembelajaran yang berkesinambungan sehingga memperkuat kemampuan adaptif dari daya saing bangsa.2.Dalam upaya untuk mengaktualisasikan hal tersebut, maka dituntut peran penting dari pimpinan dan jajaran aparatur pemerintah daerah dalam program peningkatan kapasitas, khususnya perannya sebagai: (i) character builders, yaitu membangun kembali karakter positif bangsa dengan menjunjung nilai-nilai moral di atas kepentingan sesaat dan menginternalisasikannya pada kegiatan dan aktifitasnya sehari-hari; (ii) character enabler, yaitu pemberdayaan secara terus menerus karakter bangsa dengan bersedia menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa tersebut; dan (iii) character engineer, yaitu terus melakukan pembelajaran terhadap pengembangan karakter yang menuntut adanya modifikasi dan rekayasa yang tepat disesuaikan dengan perkembangan jaman. Disamping itu, program peningkatan kapasitas, khususnya Proyek Peningkatan Kapasitas Berkelanjutan untuk Desentralisasi (Sustainable Capacity Building for Decentralization atau SCBDP), juga berperan dalam pembangunan karakter aparatur negara yang profesional melalui intervensi pada tiga tingkatan, yaitu (i) tingkat sistem, seperti kebijakan dan pengaturan kerangka kerja yang relevan; (ii) tingkat kelembagaan, seperti struktur organisasi, proses pengambilan keputusan dan prosedur lain, sistem informasi manajemen dan hubungan antar organisasi; dan (iii) tingkat individual, seperti kompetensi, keterampilan dan kualifikasi individu, pengetahuan, sikap, etika dan motivasi personil. Pemerintah Daerah adalah komponen bangsa yang paling strategis posisinya dalam memainkan proses transformasi karakter dan tata nilai di tengah-tengah derasnya liberalisasi informasi era globalisasi.
Program Character
1. Character Program untuk Instansi Pemerintah
2. Character Program untuk Pendidikan
3. Character Program untuk Corporate
4. Character Program untuk Hospital / Rumah Sakit
Manfaat Program
a. Membangun pribadi pribadi yang faham akan jatidiri dan visi hidupnya
b. Membangun pribadi yang memilki jiwa integritas dan loyalitas yang kuat
c. Menjadi pribadi yang mampu mengenal diri sendiri dan menghormati rekan kerja
e. Mampu mengenali kelemahan diri dan menutup kelemahan orang lain ( prinsip sinergi )
f. Mampu melayani dengan ketulusan hati.